Bagaimana Saya Mengembangkan Remote Worker Indonesia — Part 16: Sebelum Kejauhan, Kita Kembali Ke Dasar Dulu: Sejarah Uang dan Apa itu Inflasi

Saya inget sekali baca tentang sejarah uang ini di kompleks Daarut Tauhid — yang sekalian juga itu jalan saya ketemu Istri. Hehe — , Bandung. Judulnya Sejarah Uang sepertinya. Buku yang tebel bangeeet dan menjawab banyak pertanyaan saya tentang, “Gimana tho asal muasal uang?”. Nah, berlalu 17 tahun dari masa itu sepertinya pemahaman saya sudah lebih lengkap. Saya akan paparkan disini, dengan fokus penting: meninggalkan emas sebagai basis moneter adalah pokok permasalahan dunia ekonomi.

Bayangkan Satu Desa dengan Tiga Penghuninya

Berikut adalah tiga penghuni desa itu:

Joko = tukang mebel

Bowo = tukang pukul

Anjar = kepala desa

“Kok…?”

“Apa?”

“Itu .. namanya kok..?”

“Apaa bilang ajaa?”

“Ga deh ga jadi. Hihi”

Tiga orang ini punya skill yang unik: ga ada orang lain yang memiliki skill yang serupa. Joko bisa jualan mebel, tapi ga bisa melindungi dirinya dari perampok. Bowo bisa banget nggebuk orang lain, tapi boro-boro duduk di kursi, buatnya aja butuh bantuan mertuanya. Mas Anjar sih pinter ngatur dua orang ini. Tapi tetep aja kalau mau duduk di kursi, butuh bantuan Joko untuk buatin kursinya. Bowo juga jangan ikut-ikutan rebutan duduk di kursi: tapi cukuplah dengan membantu agar Anjar ini nantinya ga diserang para begundal kapitalis.

Mereka Mulai Melakukan Barter Produk dan Jasa

Saat Joko sudah selesai dengan kursi-kursinya, dia mulai berpikir untuk memberikan kursi-kursi ini ke Anjar. Namun hal itu butuh proses yang luar biasa berat: karena ada banyak orang yang juga menginginkan kursi-kursi itu. Karena itu dia menghubungi Bowo dan menyampaikan,

“Wo, bantu aku menyerahkan kursi-kursi ini ke Anjar. Sebagai imbalannya aku akan berikan 1 kursi untukmu. Bagaimana?”

“86 ndan!”

Disini berarti sudah terjadi transaksi ekonomi dimana produk yang dihasilkan seseorang bisa tepat tergantikan oleh jasa yang dimiliki orang lainnya. Berapa rasio pertukarannya: itu benar-benar tergantung kesepakatan antar mereka aja

Supply and Demand Economic

Sukses mengantarkan kursi ke Ganj.. eh maksud saya ke Anjar, maka kemudian semakin banyak orang yang berminat dengan kursi-kursi Pak Joko. Mulailah dia kalang kabut berusaha memenuhi demand. Dan lagi-lagi meminta bantuan Pak Bowo:

“Wo, ini proyek berikutnya kita siapin kursi-kursi untuk Pak Oke. Jauh lebih banyak dari yang untuk Pak Anjar. Nanti aku kasih imbalan 1 kursi ya”

“Waduh, ya ga bisa dong Pak”

“Eh gimana?”

“Dulu bolehlah imbalannya 1 kursi saat ngirim Pak Anjar, tapi kan Pak Joko sekarang tambah orderan terus ini. Dan Bapak lihat, mana ada disini yang jagoan pukul kelas berat seperti saya. Saya minta saat ini 10 kursi ya sebagai imbalannya”

“Ooh begitu. Hm, ya boleh”

“86 ndan!”

Itu adalah prinsip hukum ekonomi paling mendasar yang dicetuskan oleh Adam Smith: Hukum Permintaan dan Penawaran. Supply and Demand.

Esensi dari Hukum Ekonomi adalah: semakin banyak permintaan untuk suatu produk/jasa yang jumlahnya tetap, maka akan semakin mahal harga produk/jasa tersebut.

Hukum ekonomi penawaran dan permintaan/supply and demand ini terlihat sederhana dan ringan dihafal, namun itu adalah esensi semua masalah carut marut Saham, Inflasi, Bubble Valuation dan .. Cryptocurrency/token abal-abal macem ASIX milik Anang Hermansyah dan istrinya Ashanti atau I-COIN milik Wirda Mansur anak dari penjual sholawat dan sedekah untuk bisnis: Yusuf Mansur.

Kapan-kapan saya bahas Zero Sum Game — dan kaitannya dengan supply dan demand — apapun (ga termasuk Crypto aja), tapi untuk saat ini kita fokus bahas interaksi Pak Joko, Pak Bowo dan Pak Anjar ya.

Kalau saya lupa, ingetin aja. He He He

Penyederhanaan Nilai Tukar dengan Emas

Pak Joko dan Pak Bowo harmonis sekali interaksinya selama 5 tahun ke belakang ini. Pak Bowo menunjukkan support dan Pak Joko juga menujukkan penghormatan.

“Eh kok semakin mirip kisah nyata? Padahal fiksi lho ini. Fiksi!”

Semakin lama bisnis Pak Joko semakin besar dan mereka berdua mulai kesulitan kalau harus bagi-bagi kursi tiap ngirim kursi baru. Bayangkan ribetnya Pak Bowo nyimpen kursi-kursi itu di rumahnya.

Nah, suatu ketika saat Pak Joko jongkok santai di sungai untuk urusan hajatnya, eh tiba-tiba selain warna kuning yang “itu”, kok ada warna kuning lain yang berkilau di dasar sungai. Diambil, “Wah ini logam ini bagus sekali. Coba saya tunjukkan ke Pak Bowo”

Ya memang aneh juga sih kenapa di desa seluas itu cuman diisi dua orang: Pak Joko dan Pak Bowo. Pak Anjar sendiri ada di desa sebelah.

Tapi ya memang begitu. Terima aja! Jangan protes!

“Wo, ini ada logam bagus banget lho! Kayaknya kalau kamu tukar ini ke Pak Anjar, pasti dia mau tuh ngasihin beras-nya”

“Wih, iya. Wah kasih saya Pak”

“Eh ya ndak semudah itu. Kalau gini aja gimana: saya punya ginian ada 1 karung lho. Ini saya cuman ambil 1 kerikil: tapi bagus sekali kan? Kalau ngirim Kursi 1 saya setarakan dengan 1 kerikil benda ini gimana? Mau?”

“Wah boleh pak, berarti yang kemarin 10 kursi, saya dapat 10 keriki.. eh ini namanya apa sih?”

“Kita kasih nama Emas aja ya”

“Hoo, okay Pak”

Singkat punya cerita, lama-lama emas ini berhasil diterima ga cuman di desa Pak Joko dan Pak Bowo, tapi juga diterima di desa Pak Anjar, Pak Oke dan Pak Harto. Dan teruuus meluas.

Maka, ini adalah sistem mata uang pertama yang menggunakan emas. Dan kenapa manusia suka dengan emas.. ya mau gimana lagi? Itu sudah ada di https://quran.com/3/14. Nilai intrinsiknya sudah ada dari jaman azali. Jaman keabadian.

Sifat Emas: Langka dan Tidak Bisa Berdiri Sendiri Secara Murni

Terima dulu ini: emas itu sangat disukai, digemari dan dicari-cari manusia. Padahal: emas itu langka. Akibatnya: nilainya/harganya terus naik.

Eh ya ga juga sih. Ada kejadian dimana emas di eropa harganya berantakan selama 12 tahun karena seorang Khalifah Islam dari Mali yang memberikan begitu saja emas-emas sepanjang perjalanan Hajinya

Emas selama-lamanya berharga dan akan diperebutkan terus menerus oleh manusia. Hanya saja: stok emas di dunia terbatas, karena manusia perlu menggali ke dalam tanah untuk mendapatkannya. Dan tempatnya tidak mudah ditemukan.

Namun ini baik: karena dengan 1/100 gram emas saja, dia bisa dipakai untuk mempermudah transaksi ekonomi. Selain itu, emas murni itu tidak bisa berdiri sendiri. Dia harus dicampur dengan logam lain.

Solved kan masalah transaksi-transaksi ini?

Pikir Pak Joko dan Pak Bowo gitu sih. Tapi karena emas terbatas dan mereka sudah kehabisan emas, maka mereka berdua terpaksa memikirkan cara lain melakukan barter tanpa harus menggunakan emas…

Maka dimulailah era Inflasi yang diakibatkan keserahakan manusia..

Itu saya bahas di Part 17 yaks!

Insya Allah!

--

--

Founder of RemoteWorker.id, RemoteKid.id and inventor of Gold-Based Syirkah Methodology at gbsmethod.id

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store