Bagaimana Saya Mengembangkan Remote Worker Indonesia — Part 21: Pengaruh Periodisasi Pencapaian Sale Rp 100juta Terhadap Break Event Point

Ternyata kalau Rp 100juta ditumpuk dalam bentuk kertas, jadinya sebanyak ini ya. Baru nyadar…

Kenapa Cost Diputuskan Dibuat Fix?

Setelah pada Part 19 saya sampaikan tentang besar biaya per periode yang ditetapkan ke nilai Rp 60jt per periode, maka selanjutnya ada satu hal yang harus diperhatikan baik-baik:

Satu periode pada Remote Worker Indonesia tidaklah dimulai dari tanggal 1 dan berakhir di akhir bulan, namun satu periode pada Remote Worker Indonesia ditandai dengan pencapaian sale yang menembus Rp 100juta. Dengan cost yang ditetapkan sebesar Rp 60jt, itu berarti terdapat laba sebesar Rp 40juta, dimana laba ini kemudian dibagi 50:50, sehingga ke para pemodal dan founder masing-masing mendapat Rp 20jt.

Ringan ya dipahaminya? Saya jadi tidak perlu mencatat detail biaya secara harian. Melelahkan dan mendistraksi saya banget lho itu. Misal ada suatu kebutuhan baru X, maka harus mikir dulu, “Ini bisa dicatat sebagai cost ndak ya? Terus kalau bisa, pemodal setuju ga ya?”. Mikir-mikir, akhirnya malah, “Ah sudahlah, ga usah aja”. Padahal boleh jadi itu penting untuk growth sale. Maka pendekatan sederhana dari saya untuk ini adalah:

Kalian sebagai pemodal laksana berkata seperti ini, “Nih, alokasi biaya 60jt/100jt sale. Jika biaya lebih dari 60juta, ambil dari profit founder yang 50% laba”

Perlu diperhatikan, bagian bagaimana cost itu dicatat menurut saya bukan fondasi dari Gold Backed Syirkah. Tiap pengadopsi methodology ini nantinya bebas saja mau menerapkan metode pencatatan cost-nya. Yang jelas, akad itu harus disetujui di awal. Dan jikapun ada perubahan, maka perubahannya harus diinform ke pemodal.

Bagaimana Sifat Profit Share di Gold Backed Syirkah dan Komparasinya dengan Sistem Profit Share yang Lain?

Dari banyak aspek, Gold Backed Syirkah mempunya sistem pembagian bagi hasil yang mirip dengan Perusahaan yang sudah melantai di bursa saham. Karena itu, commonsense kalau kita gunakan salah satu emiten disana untuk dilakukan komparasi.

Kan menjiwai sekali: menjadikan Bank BCA sebagai contoh perbandingan, sembari melakukan itu di dalam Bank BCA. You can’t be more badass than this! Hahaha
Sekalian juga saya hitungkan dari jika kamu membeli saham senilai total Rp 1jt s/d Rp 50jt. Perhatikan bahwa ROI-mu butuh 67 tahun, namun itu dengan asumsi bahwa faktor-faktor lain tidak berubah: semial profit per-lembar saham. Silahkan cek sheet kalkulasinya disini.

Bagaimana Dengan Penerapan Gold Backed Syirkah di Remote Worker Indonesia? Kapan Saya ROI?

Okay, inget rule #1 Gold Backed Syirkah,

“Pemodal tidak boleh mengambil modalnya selama emas modalnya belum terbentuk sebagai bagian dari akumulasi profit di akhir periode”.

Maka, dari sudut pandang ini, ROI di GBS adalah sama dengan jika emas sudah terbentuk. Setelah itu, profit share ke pemodal 100% dibagikan tiap akhir periode, karena tidak perlu dilakukan penumpukan emas lagi. Selama belum terbentuk, kesepakatan aja apakah 100% dipakai untuk mengumpulkan emas atau ada sekian persen dibagikan berupa cash.

Saat April 2022 memang sudah menembus 100jt dalam 1 bulan, namun itu “kebetulan aja” kok ya pas sudah tanggal 10 pas menembus 100juta lebih dikit. Setelah itu saya merasakan kemudahan perhitungan share profit jika total sale mencapai 100juta (cost 60jt, profit 40jt bagi rata masing-masing 20jt), maka dari itu semenjak Mei kami menetapkan bahwa Periode Akuntansi “Bulanan” RWID ditandai dengan sale yang menembus 100jt. Nah, alhamdulillah-nya pencapaiannya ga jauh-jauh dari itu. Bahkan yang bulan lalu kurang lebih dalam 25 hari sudah menembus 100jt! Seneeeeeeng. Alhamdulillah
So, kita dapat nilai rata-rata perbulan profit ada di angka Rp 26.586.558

Setelah emas terkumpul, profit share baru bisa dilakukan ke pemodal pemilik emas tersebut, secara proporsional terhadap prosentase modal secara keseluruhan.

Berikut sheet perhitungannya:

Emas-mu kembali dalam hitungan 1 tahun 2 bulan.

Apa Maksudnya Nilai Saham yang Didikte Pasar?

Sesungguhnya ada satu konsep Pasar Modal yang menarik: yaitu kumpulan para calon pemodal yang siap membeli modal suatu emiten tiap harinya: yang itu menjadi salah satu faktor nilai tingkat demand terhadap saham tertentu.

Adapun demand di pasar modal akan naik turun karena sentimen negatif / positif dari pasar yang semata-mata di drive oleh satu pertanyaan, “Akankah orang-orang AKAN membeli atau AKAN menjual?” Jika AKAN membeli, saya BELI dulu aja di harga RENDAH supaya nanti harga NAIK, saya akan jual. Atau kalau orang-orang akan JUAL, saya akan cepat-cepat JUAL dulu a supaya saya masih UNTUNG di harga yang masih TINGGI ini. Spekulasi :(

Di grafik ini, artinya yang membeli di IPO, jika masih menahan sampai sekarang, maka dia sudah kehilangan dananya -67.36%. Gampangnya, kalau belinya Rp. 100juta, sekarang sudah tinggal Rp 32juta-an. Yang Rp 67 jutaanya lenyap karena demand pasar menurun: yaitu orang ga mau beli saham itu.
Saat di zoom per hari ini, kamu lihat ada kenaikan lumayan tinggi kan tuh di sekitar jam 9 pagi s/d 9.30? Itu artinya, kalau kamu BISA MENEBAK dengan tepat, bahwa trend grafik akan naik, maka sebelum SPEKULASI-mu terwujud, maka buru-buru beli. Setelah itu, “Wait wait … grafik naik.. JUAL!”, untung. Gitu deh..
Naik 2.197% dari awal! Itu artinya kalau kamu dulu beli Rp 100juta, maka di saat ini nilai kepemilikanm sudah Rp 2.197.000.000. Jual 50%-nya aja, sisanya disimpan .. masih untung besar kan? Karena itu pasar derivative ini sangat diminati.

What’s Next?

Seru ya? 😀

--

--

Founder of RemoteWorker.id, RemoteKid.id and inventor of Gold-Based Syirkah Methodology at gbsmethod.id

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store